Tuesday, January 1, 2013

Fir'aun dan Pengakuan Sebagai Tuhan

Kisah antara nabi Musa dan Fir'aun di dalam Al-Qur'an di ceritakan di banyak ayat dan surahnya. Arogansi Fir'aun yang menentang Allah dan ajaran yang dibawa Musa, yang akhirnya berakhir dengan kematian dirinya tenggelam di laut ketika Musa membawa bangsa Israel keluar dari mesir melewati laut yang terbelah, telah terkenal tidak saja di kalangan Muslim, tapi juga di kalangan ahli kitab dari kitab-kitab terdahulu. Hal ini dikarenakan kisah Musa sebagai nabi besar bangsa Israel, juga terdapat di kitab terdahulu yaitu kitab Keluaran di dalam Tanakh atau Perjanjian Lama.

Postingan kali ini akan membahas mengenai salah satu beberapa informasi dari Al-Qur'an mengenai Fir'aun pada zaman nabi Musa yang mana informasi ini tidak terdapat di kitab terdahulu. Informasi tersebut adalah :
  • Fir'aun menganggap dirinya sebagai tuhan
  • Fir'aun memiliki orang kepercayaan yang bernama atau dijuluki Haman 
  • Kisah tentang keinginan Fir'aun membangun menara untuk melihat Tuhan
Di postingan ini akan membahas mengenai poin pertama di atas, sedangkan kedua poin yang lain akan dibahas pada postingan "Haman dan Menara Yang Mencapai Langit (klik disini untuk baca)"


Siapakah Fir'aun di zaman Musa ?

Sebelum membahas pernyataan Al-Qur'an bahwa Fir'aun di zaman musa adalah Fir'aun yang menganggap dirinya sebagai tuhan, muncul sebuah pertanyaan : "Siapakah Fir'aun di zaman Musa ?"

Baik Al-Qur'an dan Perjanjian Lama menggunakan istilah Fir'aun yang mengacu kepada raja penguasa Mesir. Fir'aun ini sendiri bukanlah nama melainkan julukan atau gelar, yang pertama kali digunakan pada masa pemerintahan Amenhotep IV (sekitar 1353-1336 BCE) di Kerajaan Baru Mesir (new kingdom period of egypt). Perlu digarisbawahi dan diperhatikan di sini bahwa ketika mengacu kepada penguasa Mesir, Al-Qur'an menggunakan dua istilah yang berbeda, yaitu "malik" dan "Fir'aun". Malik digunakan ketika menceritakan tentang Yusuf dan Fir'aun digunakan ketika menceritakan tentang Musa. Sir A. Gardiner mengemukakan di dalam bukunya "Being An Introduction To The Study Of Hieroglyphs" halaman 75 sebagai berikut :


Melalui penggunaan istilah yang berbeda ketika mengacu kepada hal yang sama yaitu "penguasa Mesir", Al-Qur'an telah mengindikasikan bahwa Fir'aun adalah gelar yang "baru". Sebelum menggunakan gelar "Fir'aun", bangsa mesir menggunakan istilah malik atau raja. Saat ini diperkirakan bahwa peristiwa yang terjadi pada Yusuf, terjadi di masa pemerintahan bangsa Hyksos  sebagai penguasa Mesir (sekitar 1630-1521 BCE), yang mana pada saat itu gelar Fir'aun bagi raja Mesir belum digunakan. Hipotesa yang lain memperkirakan peristiwa-peristiwa yang digambarkan terjadi pada Yusuf terjadi pada dinasti ke-12 dari periode kerajaan tengah (middle kingdom period).

Namun dari semua hipotesa yang ada, tetap menunjukkan bahwa pada saat Yusuf hidup, istilah Fir'aun sebagai raja belum digunakan di Mesir. Sesuatu yang diungkapkan oleh Al-Qur'an secara akurat dan tidak pernah diungkapkan di kitab terdahulu.

Kembali kepada pertanyaan "siapakah Fir'aun di zaman Musa ?" membawa kita kepada perhitungan berapa lamakah sejak Musa lahir sampai Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Al-Qur'an sendiri tidak memberikan informasi tahun maupun umur ketika peristiwa antara Musa dan Fir'aun terjadi, karena sebagaimana karakteristik Al-Qur'an bahwa Al-Qur'an sangat sedikit secara eksplisit memberikan informasi mengenai tanggal maupun tahun. Allah membiarkan ilmu pengetahuan yang berkata untuk hal semacam ini. Oleh karena itu dalam postingan ini kita akan menghitung waktu minimal dari mulai Musa lahir sampai dengan Musa dan bangsa Israel keluar dari Mesir berdasarkan Al-Qur'an.

Al-Qur'an menyatakan bahwa hanya ada satu Fir'aun pada masa Musa sampai dengan bangsa Israel keluar dari Mesir. Bukan dua generasi Fir'aun, apalagi lebih. Dengan kata lain, Fir'aun pada saat Musa lahir yang kemudian menganggkat Musa sebagai anak ketika Musa ditemukan oleh istri sang Fir'aun di sungai Nil, adalah Fir'aun yang sama dengan Fir'aun yang akhirnya Allah tenggelamkan di laut sangat mengejar Musa dan bangsa Israel keluar Mesir. Hal ini antara lain dinyatakan di surah Al-Qashash (28) ayat 7-8 dan surah Asy-Syu'araa' (26) ayat 16-21 :
Peristiwa dihanyutkannya Musa  ke sungai Nil
[28:7-8] Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.

Peristiwa datangnya Musa dan Harun kehadapan Fir'aun
[26:16-21] Maka datanglah kamu berdua kepada Firaun dan katakanlah olehmu: "Sesungguhnya kami adalah Rasul Tuhan semesta alam, lepaskanlah Bani Israel (pergi) beserta kami". Firaun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna". Berkata Musa: "Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul"
Allah, melalui Al-Qur'an, tidak memberikan informasi kapan tahun Musa dilahirkan. Informasi pertama yang dapat diperoleh adalah ketika Al-Qur'an menceritakan mengenai kepergian Musa dari mesir yang diceritakan pada surah Al-Qashash (28) dan dimulai pada ayat 14 :
[28:14-15] Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya (balagha asyuddah wa-istawa), Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.Dan Musa masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Firaun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)".
Balagha asyuddah wa-istawa disini mengindikasikan kondisi dimana Musa mencapai puncak dari kondisi kekuatan fisik dan mental-nya, dalam hal ini adalah saat ketika Musa siap diembankan tugas kenabian. Dari beberapa tafsir seperti tafsir At-Tabari, Al-Qurthubi, Al-Jalalayn dan lain sebagainya, kondisi ini dicapai pada umur 40 tahun.

Kemudian diceritakan bahwa Musa melarikan diri dan sampailah dia di Madyan dimana dia membantu kedua putri nabi Syu'aib yang kemudian memperkenalkan Musa kepada bapak mereka (Syu'aib), sebagaimana yang ceritakan dalam Al-Qur'an surah Al-Qashash ayat 25-29 :
[28:25-29] Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syuaib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Syuaib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang lalim itu". Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". Berkatalah dia (Syuaib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik". Dia (Musa) berkata: "Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan". Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".
Dengan mengambil asusmsi "waktu yang ditentukan" adalah 10 tahun, maka 50 tahun berlalu setelah kelahiran Musa sampai ketika Musa memutuskan kembali ke Mesir untuk menghadapi Fir'aun. Berapa lamakah Musa di Mesir setelah kembalinya dari Madyan ketika itu, dapat diperkirakan dengan memperhatikan surah Al-A'raaf ayat 127-136 berikut : 
[7:127-136] Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Firaun (kepada Firaun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". Firaun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka".Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa". Kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas (oleh Firaun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu". Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan (bissiniina wa naqshin mina tsamarat), supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Ini adalah karena (usaha) kami". Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu". Maka Kami kirimkan kepada mereka tofan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata: "Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israel pergi bersamamu". Maka setelah kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya. Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. 
Bissiniina wa naqshin mina tsamarat disini berarti "dengan tahun-tahun (kelaparan - jamak) dan kekurangan buah-buahan". "Tahun-tahun" disini dapat diambil waktu minimal 2 tahun sebelum datangnya kebaikan atau kemakmuran kembali yang kemudian oleh para kaum Fir'aun di dustakan kembali sebelum akhirnya Allah mengirimkan tofan, belalang,kutu,katak dan darah yang kemudian terus diingkari oleh Fir'aun dan kaumnya, sehingga akhirnya sampai pada peristiwa keluarnya Musa dan bangsa Israel dari Mesir dan ditenggelamkannya Fir'aun, yang dapat diperkirakan minimal memakan waktu 1 tahun setelah peristiwa siniina wa naqshin mina tsamarat. Pada postingan "Haman dan Menara Yang Mencapai Langit" akan dijelaskan lebih lanjut bagaimana siniina wa naqshin mina tsamarat dapat memakan waktu lebih dari dua tahun, namun karena ini adalah perhitungan minimal, maka dua tahun mencukupi dalam memperikarakan siapa Fir'aun di masa Musa.

Seluruh peristiwa di atas dapat diambil waktu minimal 53 tahun, mulai dari Musa lahir sampai dengan keluarnya bangsa Mesir dan berakhirnya rezim "sang Fir'aun" tersebut. Dari waktu minimal yang telah di peroleh maka satu-satunya Fir'aun yang memenuhi kriteria ini adalah Rameses II (1303 - 1213 BCE) yang memerintah 66 tahun (1279 - 1213 BCE). Rameses II adalah Fir'aun dengan masa pemerintahan terlama di Mesir sejak periode kerajaan baru (new kingdom period) sampai periode transisi ketiga (third intermediate period).

Dinobatkan sebagai Fir'aun pada umur 24 tahun, dan terus menjadi Fir'aun selama 66 tahun membuat Rameses II adalah Fir'aun yang memenuhi kriteria "minimal 53 tahun". Umur 24 tahun, ketika Rameses II menjadi Fir'aun, adalah waktu yang cukup dewasa untuk telah memiliki istri-istri yang kemudian salah satu istrinya akan menemukan Musa ketika dialirkan di sungai nil, yang kemudian menjadikan sang Fir'aun sebagai ayah angkat Musa.




Fir'aun berkata "Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku"

Kesombongan menjadi faktor utama kejatuhan manusia. Kesombongan pula-lah yang menjerumuskan Iblis ke dalam neraka. Dan kesombongan ini yang membuat Fir'aun akhirnya di tenggelamkan ke dalam laut, kesembongan dengan mengatakan "Akulah tuhanmu yang paling tinggi". Terutama pada zaman Al-Qur'an diturunkan dan sebelum itu, umumnya pada kaum pagan memiliki raja yang juga menyembah berhala atau mungkin merasa titisan dan perwakilan tuhan, dan bukanlah suatu kelaziman mendapati seorang raja suatu negeri menyatakan dengan sombong "Akulah Tuhan". Informasi yang sebelumnya tidak diketahui pada zaman nabi Muhammad ini, apalagi informasi ini tidak terdapat di kitab para ahli kitab terdahulu, diberitahukan Allah melalui Al-Qur'an sebagai berikut :
[79:15-24] Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa "Pergilah kamu kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Firaun): Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan) Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?". Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Firaun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang. Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi".
[28:38] Dan berkata Firaun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku ... 
Di atas telah dikatakan bahwa Fir'aun dalam sejarah yang memenuhi kriteria waktu minimal 53 tahun bertahta adalah Rameses II. Sejarah pun membuktikan bahwa Rameses II membawa Mesir pada puncak kejayaannya. Dia membuat Mesir kaya akan pasokan sumber daya dan kekayaan yang berhasil dikumpulkan baik dari Mesir itu sendiri maupun dari kerajaan-kerajaan lainnya. Rameses II membangun banyak sekali bangunan dan monumen-monumen di Mesir dan Nubia. Patung-patung besar, pahatan dan ukiran hiasan pada batu, bangunan-bangunan monumen seperti Ramesseum dan Abu Simbel merupakan karya-larya dimasa pemerintahannya.

Dia memenuhi seluruh Mesir dan Nubia dengan bangunan-bangunan yang belum pernah dilakukan oleh penguasa-penguasa Mesir sebelum dia. Dia pulalah yang memindahkan dan membangun ibukota baru di delta sungai nil yang dinamakan Pi-Ramesses (sumber : Amelia Ann Blandford Edwards. "Chapter XV: Rameses the Great" dan Wolfhart Westendorf, Das alte Ägypten, 1969). Kejayaan Fir'aun ini di dalam Al-Qur'an membuatnya dijuluki sebagai Fir'aun - sang pemilik pasak-pasak (fir'awna dzii l-awtaad), karena gaya bangunan Mesir pada zaman dahulu menyerupai pasak terbalik yang megah, contohnya piramid dan obelisk. Apalagi di dalam Al-Fajr (89) ayat 7 sampai 13, Fir'aun sang pemilik pasak-pasak disandingkan dengan kaum Iram dan Tsamud dalam hal arsitektur dan membuat bangunan.
[89:7-13] (bangsa) Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan (bangsa) Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan Firaun sang pemilik pasak-pasak (fir'awna dzii l-awtaad), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab
[38:12] Telah mendustakan sebelum mereka itu kaum Nuh dan Ad dan Firaun - sang pemilik pasak-pasak
Kejayaan inilah yang akhirnya membuat Rameses II menjadi sombong, dan di dalam Al-Qur'an ditunjukkan dengan mengatakan bahwa dirinya adalah tuhan. Rameses II merasa dirinya adalah titisan Amun, dewa kerajaan pada saat itu, merasa dialah sang dewa yang berkuasa atas Mesir, yang menjadikan Mesir kepada kejayaan dan kemakmuran. Saat ini ditemukan bukti-bukti heiroglyph baik berupa patung maupun stela (batu/kayu berukir) yang mana menceritakan mengenai "ketuhanan" Rameses II.

Contohnya adalah stela no. 410 pada gambar dibawah, dari Musium Hildesheim, menyatakan gambar orang berdiri dengan sebutan "Raja dari Mesir atas dan bawah, Raja dari dua wilayah 'Rameses-meryamun, Tuhan' ( King of Upper and Lower Egypt, the Lord of the Two Lands ‘Ramesses-meryamun, the God )" [sumber: L. Habachi, Features Of The Deification Of Ramesses II, 1969, op. cit., p. 32; G. Roeder, "Ramses II Als Gott: Nach Den Hildesheimer Denksteinen Aus Horbet", Zeitschrift Für Ägyptische Sprache Und Altertumskunde, 1926, op. cit., pp. 62-63; L. Habachi, "Khatâ‘na-Qantîr: Importance", Annales Du Service Des Antiquités De L'Égypte, 1954, op. cit., pp. 537-538. ]




Begitu pula yang ditunjukkan oleh stela no. 1079 di musium Hildesheim di bawah, terdapat hieroglyph yang di artikan "Raja dari dua wilayah 'usermaatre-setpenre' Monthu-di-dua-wilayah" (Lord of the two land 'sermaatre-setpenre' Monthu-in-the-Two-Lands) dan "Raja dari segala mahkota, 'Rameses-meryamun', sang Tuhan " (Lord of the diadems 'Ramesses-meryamun', the God) [sumber: L. Habachi, Features Of The Deification Of Ramesses II, 1969, op. cit., p. 31; G. Roeder, "Ramses II Als Gott: Nach Den Hildesheimer Denksteinen Aus Horbet", Zeitschrift Für Ägyptische Sprache Und Altertumskunde, 1926, op. cit., pp. 62-63; L. Habachi, "Khatâ‘na-Qantîr: Importance", Annales Du Service Des Antiquités De L'Égypte, 1954, op. cit., pp. 539-540.].





Di kedua stela di atas terdapat hieroglyph sebagaimana gambar di sebelah kanan ini  yang berarti "Rameses-meryamun the God"

Begitu pula yang terdapat di Abu Simbel, salah satu arsitektur terbaik penginggalan Rameses II, terdapat relif dengan hieroglyph yang mengatakan "Lord of Two Lands ‘Usermare-setpenre’" (= Ramesses II) offering to "Ramesses-meryamun" (= Ramesses II), dengan salah satu figur memiliki lingkaran matahari dan tanduk di sekeliling telinganya yang menandakan kekekalan atau "sifat kedewaan". Dari ungkapan tersebut, terlihat jelas bahwa Rameses II "menuhankan" dirinya dan menganggap dirinya kekal.



"usermare-setpenre" adalah penamaan "prenomen" yang biasanya merefer kepada "Raja dari Mesir atas dan bawah". Terkait definisi prenomen, penjelasan dari http://www.globalegyptianmuseum.org/glossary.aspx?id=298 tentang prenomen ini, dikatakan :
Pronomen is term used to refer to the so-called 'King of Upper Egypt and Lower Egypt' name, the king's throne name, one of the four names adopted by him at his coronation (the other three are the Horus name, the Two Ladies name and the Golden Horus name). The 'prenomen 'and the 'nomen' (or birth name) are the only names to be written in cartouches; in lists of the names, the 'prenomen' is traditionally second last. The name chosen often provides an indication of the ideology or plans of the king. Perhaps this is why it was the most important name for the Egyptians themselves; we usually refer to the kings using their 'nomen'. Nebmaatre, Nebkheperure or Usermaatre are less expressive for us than Amenhotep, Tutankhamun or Ramesses. The 'prenomen' was traditionally preceded by the heraldic plant of Upper Egypt and the bee of Lower Egypt and this is why the title is usually translated as 'King of Upper Egypt and Lower Egypt'. However, it has also been suggested that the plant ('sut') may refer to the unchangeable divine king, and the bee ('bit') to the mortal individual holder of the throne. Every king combined in his person the divine and the mortal, just like the living king Horus on earth and the dead king Osiris. An early form of the title was first used in the 1st Dynasty (King Den). The prenomen appeared in a cartouche from the reign of Huni (3rd Dynasty).
Kemudian terdapat pula dua inkripsi yang di dedikasikan kepada Rameses II, yang menyatakan tentang "ketuhanan" Rameses II. Dua inkripsi ini terdapat di dua tiang di depan kuil Luxor, yang terjemahannya dalam bahasa inggris adalah sebagai berikut :
North (front) Façades.

    W. Wing: .... King of Upper and Lower Egypt, Usimare?-Setepenre?: he has made as his monument for his father Amenresonter the constructing for him of the Temple of Ramesses II Meryamun in the Domain of Amun, in front of Southern Opet, and the erecting for him of a pylon anew, its flagstaves reaching up to heaven – being what the Son of Re?, Ramesses II Meryamun, given life forever, made for him.

    ....

South (rear) Façades.

    W. Wing, upper line: .... King of Upper and Lower Egypt, Usimare?-Setepenre?: he has made as his monument for his father Amenre?, presiding over his harim, the constructing for him of a great and noble pylon before his temple, its flagstaves reaching up to heaven, (made of) cedar of God's Land, which the Son of Re?, Ramesses II Meryamun, given life like Re? forever, has made for him.


[
Sumber: M. Abd El-Razik, "The Dedicatory And Building Texts of Ramesses II In Luxor Temple: II: The Texts", Journal Of Egyptian Archaeology, 1974, Volume 60, pp. 142-160, esp. inscriptions on pp. 151-152; idem., "The Dedicatory And Building Texts of Ramesses II In Luxor Temple: II: Interpretation", Journal Of Egyptian Archaeology, 1975, Volume 61, pp. 130-131 ]

Yang terakhir adalah yang ada di papyrus Anasti II yang diperkirakan berasal dari masa Merneptah, penerus Rameses II, yang mana di dalamnya terdapat bagian yang menyatakan Rameses II sebagai tuhan (god), pengabar (herald), wakil (vizier), dan juga pemimpin kota (mayor) [sumber : The inscription was published in A. H. Gardiner, Late-Egyptian Miscellanies, 1937, Bibliotheca Aegyptiaca - VII, Édition de la Fondation Égyptologique Reine Élisabeth: Bruxelles, p. 12; Translation was done by R. A. Caminos, Late-Egyptian Miscellanies, 1954, Brown Egyptological Studies - I, Oxford University Press: London, p. 37; Also see A. H. Gardiner, "The Delta Residence Of The Ramessides", Journal Of Egyptian Archaeology, 1918, op. cit. (Part III), pp. 187-188.]




Hari festival - pertemuan Musa dan penyihir Fir'aun

Pada surah Thaahaa ayat 57-59, diceritakan mengenai Musa mengadakan perjanjian dengan para tukang sihir Fir'aun untuk "adu kebolehan". Di dalam ayat tersebut, dikatakan bahwa Musa mengusulkan bahwa pertemuan itu diadakan pada yaum al-zinaati.
[20:57-59] Berkata Firaun: "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan". Berkata Musa: "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya (yaum al-zinaati) dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik".
Yaum al-zinaati di artikan sebagai hari dimana orang-orang berhias, hari raya atau hari festival. Suatu hari dimana semua orang berkumpul sehingga baik dari kubu Fir'aun maupun dari kubu Musa tidak ada yang melanggar atau tidak menepati janji. Festival besar dan mewah di zaman Fir'aun, terutama bagi Fir'aun yang mengangkat dirinya sendiri sebagai Tuhan, adalah Heb-Sed festival. Menurut http://www.globalegyptianmuseum.org/glossary.aspx?id=334, Heb-Sed festival adalah suatu festival yang diadakan oleh raja mesir setelah 30 tahun ber-takhta dan akan berulang selanjutnya setiap tiga tahun. Tujuannya adalah untuk merayakan dan memperbaharui kekuasaan sang-raja, menandakan bahwa sang raja merupakan utusan dewa, atau dalam kasus Ramses II merupakan dewa/tuhan itu sendiri.

Ramses II dalam 66 tahun masa pemerintahannya seharunya telah melakukan paling banyak 13 kali Heb-Sed festival, yaitu di tahun ke-30, 33, 36, 39, 42, 45, 48, 51, 54, 57, 60, 63, dan 66 masa pemerintahannya. Melihat perhitungan "berapa lama musa sejak lahir sampai keluar mesir" diatas, ketika datang kepada Fir'aun untuk mengajak Fir'aun kepada jalan Allah dan membebaskan bangsa Israel, sebelum akhirnya Allah menurunkan musim paceklik dan berbagai pertanda seperti topan, belalang, kutu katak dan darah, yaitu setidaknya 3 tahun sebelum akhirnya sang Fir'aun ditenggelamkan, hal ini bersesuaian dengan riwayat Rameses II yang merayakan Heb-Sed festival 3 tahun sebelum kematiannya yaitu di tahun ke 63 pemerintahannya. Dari postingan "Haman dan Menara Yang Mencapai Langit (klik disini untuk baca)", dapat disimpulkan pula bahwa Heb-Sed festival dimana Musa dan Harun hadir menghadap tukang sihir Fir'aun adalah kemungkinan di tahun ke 57 pemerintahannya yang mana di saat itu Haman masih hidup sebelum akhirnya meninggal di sekitar tahun ke 59 pemerintahan Fir'aun.

Heb-Sed festival adalah waktu yang tepat untuk "mempermalukan" Musa dan menunjukkan kedigdayaan dan keberkuasaan-nya atas Mesir dan bangsa Israel. Di festival tersebut, dimana Fir'aun menunjukkan kepada seluruh rakyat bahwa dialah sang raja dan tuhan bagi mesir, merupakan waktu yang tepat bagi kedua belah pihak untuk "bertarung". Tentu saja Yaum al-zinaati dapat berarti festival yang lain. Namun dengan fakta bahwa Rameses II memuja dirinya sendiri dan memaklumatkan sebagai tuhan bagi mesir, festival akbar yang memungkinkan paling cocok pada saat masa pemerintahan Rameses II adalah Heb-Sed festival ini.

Di surah Yunus (10) ayat 92, ketika sebelumnya bercerita mengenai penenggelaman Fir'aun yang disaat-saat terakhir Fir'aun berkata bahwa dia mengakui dan beriman kepada Tuhannya Musa, Allah mengatakan bahwa Allah menyelamatkan jasad Fir'aun setelah dia ditenggelamkan, sebagai pelajaran bagi orang-orang yang datang kemudian.
[10:92] Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami
Kenyataan bahwa kemudian di tahun 1881 mumi Rameses II diketemukan, mengindikasikan akhirnya jasad sang Fir'aun diketemukan oleh rakyatnya kemudian dilakukan proses mumifikasi terhadap dirinya. Penyebab kematian Rameses II berdasarkan mumi yang ditemukan pun belum dapat dipastikan, walaupun diperkirakan Rameses II menderita ankylosing spondylitis. Proses mumifikasi itu sendiri dapat mengaburkan penyebab kematian seseorang apalagi dalam jangka waktu beribu-ribu tahun. namun yang perlu digaris bawahi disini adalah pernyataan Al-Qur'an bahwa jasad sang Fir'aun masih ada dan diselamatkan dari laut, tidak dibiarkan tenggelam dan membusuk di dalam laut, dan suatu saat, dengan adanya proses "mumifikasi" bangsa Mesir yang dapat mengawetkan mayat, akan dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang di kemudian hari.

Demikianlah bagaimana bukti-bukti sejarah menunjukkan apa yang dikatakan oleh Al-Qur'an 14 abad yang lalu itu adalah kebenaran, walaupun di kitab dari para ahli kitab tidak menyebutkan mengenai perkara ini, yaitu informasi mengenai Fir'aun yang menuhankan dirinya bagi Mesir, yang mana menurut Al-Qur'an, menyebabkan Fir'aun memperoleh laknat Allah.


Wallahu a'lam


Maha benar Allah dengan segala firman-Nya

Sumber : http://www.islamic-awareness.org/Quran/Contrad/External/mosespharaoh.html dan sumber-sumber lainnya
Narrated Abu Huraira:
I heard Allah's Apostle saying, "I have been sent with Jawami al-Kalim (i.e., the shortest expression carrying the widest meanings), and I was made victorious with awe (caste into the hearts of the enemy), and while I was sleeping, the keys of the treasures of the earth were brought to me and were put in my hand." Muhammad said, Jawami'-al-Kalim means that Allah expresses in one or two statements or thereabouts the numerous matters that used to be written in the books revealed before (the coming of) the Prophet .
(Translation of Sahih Bukhari, Volume 9, Book 87, Number 141)

untuk melihat dan mencari ayat-ayat Quran dapat melalui http://www.quranplus.com/
panduan kata per kata dapat menggunakan http://corpus.quran.com/wordbyword.jsp
Arabic-English Lane's Lexicon : http://www.tyndalearchive.com/tabs/lane/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...